Sabtu, 23 Agustus 2014

tulisan Natasya

Masih ada lagi lohh..

Perbedaan

Kita saudara tetapi kita berbeda, agama yang membedakan kita. Walaupun begitu kita tetap menghargai satu sama lain. Sejak mama ku menikah dengan papa ku, mama menjadi seorang mualaf, tanpa sepengetahuan orang tua dari mama ku. Sejak umur 2 tahun, aku jauh dari orang tuaku, aku tinggal bersama oma, karna mama dan papa sibuk kerja. Setiap hari minggu aku selalu diajak ke gereja sama oma, setiap minggu juga aku ikut sekolah minggu. Segala kegiatan anak-anak yang ada di gereja aku selalu ikut. Dan saat aku mulai beranjak ke sekolah TK aku tinggal sama mama dan papa, setiap sore disana aku selalu mengaji, waktunya sholat aku sholat, walaupun belum benar. Tetapi tidak lama, saat aku naik ke TK B aku pindah lagi, aku tinggal bersama oma lagi. Dan setiap minggu aku dan oma selalu berangkat ke gereja.
Hari itu mama menginap dirumah oma, kebetulan hari itu hari minggu, aku dan oma mengajak mama pergi ke gereja, tetapi mama tidak mau, mulai dari situ oma curiga. Oma bertanya sama aku, “mama kalau dirumah sholat gak? Mama suka ngaji gak?”. Aku langsung menjawab “iya, mama kalo dirumah suka sholat, suka ngaji”. Mulai dari situ oma marah besar sama mama, selama 2 bulan Oma gak mau ngobrol sama mama. Tetapi, semua berjalan seiring waktu, Oma mulai menerima semuanya, karna semuanya sudah terjadi, mau diapakan lagi, semua sudah terlanjur.
Saat aku duduk di bangku SD, aku sudah tidak boleh lagi ikut oma ku ke gereja, setiap aku menginap di rumah oma, oma selalu mengajak ku ke gereja, tetapi mama melarang ku. Lalu, mama bertanya, “sebenernya agama kamu islam atau katolik?”. Aku diam beberapa menit, dan aku langsung menjawab “Islam”. Mama meyakinkan ku, “kalau Islam kok hafal doa Salam Maria? Coba baca doa Al-Fatihah”. Aku langsung membaca surat Al-Fatihah dari awal sampai akhir.
Orang-orang selalu mengira aku adalah Non Muslim, karna namaku Natasya, yang artinya anak perempuan yang lahir pada hari Natal.
Tetapi itu semua tidak menjadi penghalang buat keluargaku. Kita tetap sering berkumpul bersama, walau keyakinan kita berbeda. Kita tetap saling menghargai satu sama lain. Aku cinta dengan keluargaku, dan tidak pernah mebeda-bedakan satu sama lain.

Natasya Puspa Ayu Palupi
SMK Daya Utama Bekasi

tulisan Anjar

Haiiiii... Lama gak buka buka ini blog. By the way, langsung aje kali ya. Sebenernya cuma mau posting kirimannya anjar sih.. Cek It Out >>>

Cinta Yang Hilang

Aku sangat suka menulis diary, setiap hari apapun yang aku lakukan aku selalu menulisnya dibuku diary kesayanganku. Dari mulai aku bangun tidur sampai tidur aku ceritakan semuanya di buku diary. Ketika buku diaryku habis Ibuku langsung membelikan lagi buku diary yang baru untukku.

                Aku punya sahabat yang bernama Ray, dari kecil aku dan dia sudah bersahabat walaupun kita berbeda derajat tapi kita tidak perdulikan itu. Kita tidak perduli derajat,kasta,jenis kelamin dan yang lainnya yang di perdulikan itu hanyalah "Kejujuran dan Solidaritas"
Dan hari-hari pun berlalu, aku dan dia menikmati hari bersama dari mulai kita sekolah, main dan kerja kelompok selalu bersama. Kita tidak perduli jika teman-teman disekolah mengira berpacaran dan nyata nya tidak.

                Orang tua kita juga bersahabat jadi tidak asing lagi bagi kita untuk bersama-sama, kita memang saling menyayangi tetapi rasa sayang itu hanya sebatas kakak dan adik walaupun bukan saudara kandung.

                Pada umur kita yang sudah 16 tahun tiba-tiba keluarga kami pindah keluar kota, tentu sangat berat hati jika kami harus berpisah. Aku sempat berpikir mengapa kita bertemu tetapi dipisahkan? Aku dan dia sudah seperti saudara kandung sungguh berat sekali rasanya, tetapi mau bagaimana lagi? Orang tua kami punya pekerjaan nya masing-masing dan akhirnya pun kita berpisah.

                Ayahku bertugas sebagai pelayar dan orang tua Ray adalah Dokter hebat yang ada di Singapura. Aku tidak menyangka hal ini terjadi. Dia berjanji akan selalu tinggal disini dan aku pun juga begitu.

                Tetapi takdir yang memisahkan keluarga kami, mungkin Tuhan memiliki skenarionya sendiri dan tidak ada satu pun yang tahu kehendak Tuhan selanjutnya apa dan aku berharap jika kita dipertemukan lagi suatu saat nanti kita akan bersama-sama lagi.

                 Bulan demi bulan berganti, tahun demi tahun pun berganti. Pada tahun ini aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa akan mencari Ray di social media. Walaupun hanya bisa berchatting tapi setidaknya aku dapat berkomunikasi dengan Ray.
                Aku pun menemukan social media milik Ray dan beberapa menit kemudian Ray mengirim pesan dan aku pun segera membalasnya. Ray pun bercerita panjang denganku dia bilang kalau keluarganya sudah pindah ke Jakarta, aku pun sempat terkejut. Dia sangat menyesal tidak memberitahuku kalau dia sudah di Jakarta. Tidak lama berchatting kita pun bertukar nomor telepon, keesokan harinya Ray pun meneleponku dan ingin bertemu aku karena bertahun-tahun tidak bersama-sama seperti semasa kecil dahulu. Akhirnya kita bertemu, Ray pun masih sama seperti dulu kalau bertemu aku langsung mencubit pipiku sampai merah. Panggilan dia untukku adalah "Si pipi bakpao" panggilan aku untuknya adalah "Si hidung panjang" bagi kami itu panggilan yang lucu dan sampai sekarang panggilan itu masih berlaku.

                Aku sangat senang sekali kita bisa bertemu kembali, kakak dan adik bersatu walaupun bukan saudara kandung tapi aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. Ray bercerita kehidupannya di Singapura dari mulai dia kuliah sampai bekerja dengan Ayahnya.
Beberapa jam kemudian handphone Ray pun bunyi dan setelah dia menerima telepon itu dia langsung pergi tanpa bilang kemana tujuan dia pergi.

                Beberapa minggu dari pertemuan itu aku dan Ray tidak pernah berkomunikasi lagi, aku tidak tau mengapa begini lagi. Aku pun mencari kabar Ray lagi aku selalu menghubungi nomor telepon Ray. Aku sungguh pasrah sekali karena tidak ada jawaban dari Ray. Setelah seharian aku menghubungi Ray keesokan harinya Ray meneleponku, aku segera mengangkat telepon itu, aku kira yang menelepon itu adalah Ray tetapi bukan. Tetapi itu adalah Ibunya Ray yang bercerita bahwa selama ini keluarganya tidak pernah pindah kesana, pergi ke Singapura hanya untuk menjalankan pengobatan Ray.

                Ternyata selama ini Ray menutupi penyakitnya dariku, sungguh sedih mendengarnya, Ray menutupinya karena dia tidak mau membuat adiknya (Aku) sedih. Ray mengidap kanker hati stadium akhir. Terkejut mendengar itu tetapi  aku sedih juga mengapa Ray membohongiku?

                Ibunya Ray memberitahu bahwa Ray sudah tidak ada, Ray sudah meninggal dunia. Sungguh ingin sekali aku bertemu dia untuk terakhir kalinya. Dan sebelum Ray meninggal dia sempat membuat sesuatu untukku aku tidak tahu itu apa. Sedih aku mendengarnya, sudah tidak ada lagi kakak yang aku sayangi, tidak ada lagi yang memanggilku Si pipi bakpao, jujur aku sangat kehilangan sosok Ray sosok seorang kakak yang sangat aku idam – idamkan dan mungkin tak kan ada lagi yang seperti Ray. Aku tidak tau harus berbuat apa, aku bingung Tuhan..

                Pada suatu hari Ibunya Ray mengajak aku untuk bertemu, Ibunya memberi tahu kalau Ray sempat menulis surat untukku. Aku pun menangis dipelukan Ibunya Ray. Setelah itu aku pergi ke makam Ray, di sana aku berbicara dengan makamnya waupun dia sudah tiada tetapi dia masih ada didalam hatiku. Hanya doa yang bisa aku lakukan untuk Ray, setiap sholat tidak lupa aku mendoakan yang tenang dialam sana.

Tuhan tempatkanlah Ray bersamaMu, dalam SurgaMu..

                                -The End-
By : Sri Anjarwati

Sekolah : SMK Daya Utama Bekasi

Oh ya, kalo ada yang mau kasih saran atau kritik silakan koment aja ya :)) Terima kasih