Haiiiii... Lama gak buka buka ini blog. By the way, langsung aje kali ya. Sebenernya cuma mau posting kirimannya anjar sih.. Cek It Out >>>
Cinta
Yang Hilang
Aku sangat suka menulis diary, setiap hari
apapun yang aku lakukan aku selalu menulisnya dibuku diary kesayanganku. Dari
mulai aku bangun tidur sampai tidur aku ceritakan semuanya di buku diary. Ketika buku diaryku habis Ibuku langsung membelikan
lagi buku diary yang baru untukku.
Aku punya sahabat yang bernama Ray, dari
kecil aku dan dia sudah bersahabat walaupun kita berbeda derajat tapi kita
tidak perdulikan itu. Kita tidak perduli derajat,kasta,jenis kelamin dan yang
lainnya yang di perdulikan itu hanyalah "Kejujuran dan Solidaritas"
Dan hari-hari pun berlalu, aku dan dia menikmati hari bersama dari
mulai kita sekolah, main dan kerja kelompok selalu bersama. Kita tidak perduli jika
teman-teman disekolah mengira berpacaran dan nyata nya tidak.
Orang tua kita juga bersahabat jadi tidak
asing lagi bagi kita untuk bersama-sama, kita memang saling menyayangi tetapi
rasa sayang itu hanya sebatas kakak dan adik walaupun bukan saudara kandung.
Pada umur kita yang sudah 16 tahun tiba-tiba
keluarga kami pindah keluar kota, tentu sangat berat hati jika kami harus
berpisah. Aku sempat berpikir mengapa kita bertemu tetapi dipisahkan? Aku dan
dia sudah seperti saudara kandung sungguh berat sekali rasanya, tetapi mau
bagaimana lagi? Orang tua kami punya pekerjaan nya masing-masing dan
akhirnya pun kita berpisah.
Ayahku bertugas sebagai pelayar dan orang
tua Ray adalah Dokter hebat yang ada di Singapura. Aku tidak menyangka hal ini
terjadi. Dia berjanji akan selalu tinggal disini dan aku pun juga begitu.
Tetapi takdir yang memisahkan keluarga
kami, mungkin Tuhan memiliki skenarionya sendiri dan tidak ada satu pun yang
tahu kehendak Tuhan selanjutnya apa dan aku berharap jika kita dipertemukan
lagi suatu saat nanti kita akan bersama-sama lagi.
Bulan demi bulan berganti, tahun demi tahun pun berganti. Pada tahun
ini aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa akan mencari Ray di social media. Walaupun hanya bisa berchatting tapi
setidaknya aku dapat berkomunikasi dengan Ray.
Aku pun menemukan social media milik Ray
dan beberapa menit kemudian Ray mengirim pesan dan aku pun segera membalasnya.
Ray pun bercerita panjang denganku dia bilang kalau keluarganya sudah pindah ke
Jakarta, aku pun sempat terkejut. Dia sangat menyesal tidak memberitahuku kalau
dia sudah di Jakarta. Tidak lama berchatting kita pun bertukar nomor telepon, keesokan
harinya Ray pun meneleponku dan ingin bertemu aku karena bertahun-tahun tidak
bersama-sama seperti semasa kecil dahulu. Akhirnya kita bertemu, Ray pun masih sama seperti dulu kalau
bertemu aku langsung mencubit pipiku sampai merah. Panggilan dia untukku adalah
"Si pipi bakpao" panggilan aku untuknya adalah "Si hidung
panjang" bagi kami itu panggilan yang lucu dan sampai sekarang panggilan
itu masih berlaku.
Aku sangat senang sekali kita bisa bertemu
kembali, kakak dan adik bersatu walaupun bukan saudara kandung tapi
aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. Ray bercerita kehidupannya di Singapura
dari mulai dia kuliah sampai bekerja dengan Ayahnya.
Beberapa jam kemudian handphone Ray pun bunyi dan setelah dia menerima telepon itu dia langsung
pergi tanpa bilang kemana tujuan dia pergi.
Beberapa minggu dari pertemuan itu aku dan
Ray tidak pernah berkomunikasi lagi, aku tidak tau mengapa begini lagi. Aku pun
mencari kabar Ray lagi aku selalu menghubungi nomor telepon Ray. Aku sungguh pasrah sekali karena tidak ada jawaban
dari Ray. Setelah seharian aku menghubungi Ray keesokan harinya Ray
meneleponku, aku segera mengangkat telepon itu, aku kira yang menelepon itu
adalah Ray tetapi bukan. Tetapi itu adalah Ibunya Ray yang bercerita bahwa selama ini
keluarganya tidak pernah pindah kesana, pergi ke Singapura hanya untuk
menjalankan pengobatan Ray.
Ternyata selama ini Ray menutupi penyakitnya
dariku, sungguh sedih mendengarnya, Ray menutupinya karena dia tidak mau membuat adiknya (Aku) sedih.
Ray mengidap kanker hati stadium akhir. Terkejut mendengar itu tetapi
aku sedih juga mengapa Ray membohongiku?
Ibunya Ray memberitahu bahwa Ray sudah
tidak ada, Ray sudah meninggal dunia. Sungguh ingin sekali aku bertemu dia
untuk terakhir kalinya. Dan sebelum Ray meninggal dia sempat
membuat sesuatu untukku aku tidak tahu itu apa. Sedih aku mendengarnya, sudah tidak ada
lagi kakak yang aku sayangi, tidak ada lagi yang memanggilku Si pipi bakpao,
jujur aku sangat kehilangan sosok Ray sosok seorang kakak yang sangat aku idam –
idamkan dan
mungkin tak kan ada lagi yang seperti Ray. Aku tidak tau
harus berbuat apa, aku bingung Tuhan..
Pada suatu hari Ibunya Ray mengajak aku
untuk bertemu, Ibunya memberi tahu kalau Ray sempat menulis surat untukku. Aku
pun menangis dipelukan Ibunya Ray. Setelah itu aku pergi ke makam Ray, di sana
aku berbicara dengan makamnya waupun dia sudah tiada tetapi
dia masih ada didalam hatiku. Hanya doa yang bisa aku lakukan untuk Ray, setiap sholat tidak
lupa aku mendoakan yang tenang dialam sana.
Tuhan tempatkanlah Ray bersamaMu, dalam SurgaMu..
-The End-
By : Sri Anjarwati
Sekolah : SMK Daya Utama Bekasi
Oh ya, kalo ada yang mau kasih saran atau kritik silakan koment aja ya :)) Terima kasih